Kompas Jatim, 13 Januari 2010

Ekonomi Kerakyatan

PERGULATAN INDUSTRI TAHU KEDIRI

Oleh Runik Sri Astuti

Waktu istirahat siang telah lewat. Namun, Jufri (42), yang ditemui di pengujung tahun 2009, masih sibuk menggeluti pekerjaannya di salah satu perusahaan tahu terkemuka di Kota Kediri. Tangan kanannya dengan cekatan memegang pisau, sementara tangan kirinya menggenggam papan penyangga tahu yang sudah jadi. Dengan cekatan laki-laki yang bekerja di perusahaan tahu sejak 1982, memotong tahu menjadi kotak-kotak ukuran kecil.

Setelah itu ia harus merebus tahu dengan air yang dibubuhi kunyit yang telah ditumbuk. Tujuannya menghasilkan warna kuning pada tahu. Begitu matang, barulah tahu ditiriskan dan selanjutnya siap dijajakan kepada pembeli.

Setiap pagi sedikitnya ratusan pekerja memproduksi tahu di unit-unit usaha di Kediri. Pekerja mengejar upah Rp30.000 per hari sebagai penyambung hidup keluarga.

Di Kota Kediri terdapat lebih dari 10 perusahaan tahu berskala menengah yang berkembang pesat. Dan lebih dari 20 industri tahu tanpa merek tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Maka tidaklah berlebihan jika Kota Kediri menyandang predikat Kota Tahu.

Tengok saja Jalan Yos Sudarso dan Jalan Pattimura. Sepanjang tepiannya dipenuhi kios tahu dengan merek ternama seperti LYM, POO, Pong, Surya, LTT, Mickey Mouse, LTH, Panglima, dan Hayam Wuruk.

Lahirnya industri tahu di Kota Kediri tidak lepas dari peran sentral Lauw Soen Hok atau yang lebih dikenal dengan nama Bahkacung. Dialah perintis usaha pembuatan tahu pong, sebutan untuk tahu putih, dan tahu takwa, sebutan untuk tahu kuning, yang tersohor hingga di luar Jatim.

Rumah tinggalnya di Jalan Trunojoyo menjadi saksi sejarah perjalanan industri tahu sejak 1912. Rumah yang menjadi tempat produksi sekaligus ruang pamer tahu Bahkacung itu tetap berdiri kokoh, dengan fondasi semangat juang yang terus dilestarikan hingga memasuki generasi ketiga.

Bermunculan

Herman Budiono (41), pemilik tahu Bahkacung, mengatakan industri tahu di Kota Kediri mengalami pasang-surut. Sebelum tahun 2000, pertumbuhan industri tahu sangat luar biasa dengan bermunculannya berbagai merek tahu.

Pasca tahun 2000, roda industri tahu tidak lagi menggelinding. Industri tahu seolah stagnan di tempatnya. Krisis ekonomi global yang melanda sejak 1997 tampaknya memberikan pukulan yang cukup telak bagi pengusaha.

Belum lagi mereka bangkit dengan sempurna, pada tahun 2007 pengusaha tahu kembali diterjang badai. Kali ini mereka dihantam isu makanan berformalin. Akibat hantaman isu tersebut, tidak sedikit perusahaan tahu yang terganggu kestabilannya.

Setahun berlalu, pelaku industri tahu kembali mendapat batu sandungan. Kali ini giliran harga kedelai yang melonjak tajam tidak menentu. Bahkan, hingga pengujung tahun 2009, ketidakstabilan harga kedelai masih menyisakan masalah bagi pengusaha.

“Sekarang harga kedelai kembali naik, dari sebelumnya Rp5.200 per kilogram untuk kedelai lokal menjadi Rp5.800 sampai Rp5.900. Kami terpaksa menekan margin karena sangat sulit menaikkan harga jual,” ujar Herman.

Menyambut tahun baru 2010, Herman berharap industri tahu akan lebih baik. Dia optimistis bisa membuka cabang baru perusahaan tahu di Kediri, bahkan di Surabaya.

Sosok

HERMAN BUDIONO DAN GENERASI KETIGA

Meneruskan usaha warisan keluarga secara turun-temurun bukanlah perkara mudah. Apalagi jika harus menyandang nama besar. Pertaruhannya tinggi. Sedikit saja kurang cermat dalam melangkah, semua perjuangan selama bertahun-tahun menjadi sia-sia.

Selain kecermatan, kelihaian membaca peluang pasar juga menjadi kunci sukses menghadapi persaingan usaha. Apalagi menghadapi pemain baru dan impitan kekuatan ekonomi dengan kapital besar.

Herman Budiono (41) merupakan generasi ketiga perusahaan tahu di Kota Kediri dengan merek Bahkacung. Meski baru terjun secara total pada tahun 2008, setelah sang ayah meninggal, dia tidak canggung. Alasannya, dia telah mempelajari seluk-beluk bisnis tahu mulai dari pemilahan bahan baku, proses produksi tahu, hingga menangani karyawan dan pemasaran produk. “Usaha keluarga yang dijaga dari generasi ke generasi menjadi laboratorium tempat saya menempa diri,” katanya.

“Saya ingin usaha tahu Bahkacung tetap eksis, bahkan bisa berkembang lebih besar lagi. Saya sudah punya rencana untuk itu,” kata pria yang belum sempat menamatkan kuliahnya ini.

Salah satu kelebihan tahu Bahkacung yang tidak dimiliki oleh perusahaan tahu di Kota Kediri, menurut Herman, adalah kesetiaannya dalam menjaga kualitas rasa dengan mempertahankan penggunaan bahan alami, termasuk penggunaan produk lokal terutama kedelai. Tidak hanya itu, proses produksi pun bertahan dengan alat tradisional dan tidak pernah tergoda untuk beralih pada teknologi modern yang bertumpu pada mesin.

Sangatlah wajar jika harga tahu Bahkacung sedikit lebih mahal dibandingkan dengan tahu yang diproduksi perusahaan lain. Bahkan, sampai sekarang belum ada satu pun perusahaan tahu di Kota Kediri yang bisa menyaingi dari segi kualitas.

Setiap potong tahu Bahkacung dijual Rp2.500, sedangkan merek lain seharga Rp1.600 per potong. Harga itu wajar karena setiap 20 kg kedelai yang dimasak Herman hanya jadi 200 potong tahu. Sedangkan di tempat lain bisa mencapai 300—400 potong tahu. Tentu rasanya beda. Namun, pilihan tetap ada di tangan konsumen. Yang jelas lidah tak bisa ditipu. (NIK)

Advertisements

Kompas, Minggu, 12 Agustus 2007

Frans Sartono & Susi Ivvaty

Di balik tahu Kediri yang lembut dan gurih itu, tercatat sejarah kerja keras para juragan dan pekerja tahu. Di masa susah, ada yang sampai memberi makan keluarganya dengan ampas tahu.
Sudah 40 tahun Suwaji (71) menjadi penggiling kedelai untuk dibuat tahu. Bersama anaknya, Sutikno (31), ia berpasangan menggiling di pabrik perusahaan tahu Bah Kacung, Kediri, Jawa Timur. Ayah Suwaji bernama Waras, dulu juga buruh penggiling tahu. Jadilah tiga generasi penggiling tahu Bah Kacung yang berdiri sejak tahun 1912.

batu penggiling kedelai

batu penggiling kedelai

Suwaji menggiling menggunakan gilingan tradisional yang terbuat dari tumpukan lempeng batu berdiameter sekitar 50 sentimeter. Suwaji dan Sutikno memutar gilingan yang dihubungkan dengan tuas dan tali sebagai penggerak. Lumayan berat bagi yang tak biasa. Cobalah sekali saja menggiling satu putaran, niscaya terasa berat sekali. Namun, Suwaji dan Sutikno tampak menikmati pekerjaan itu dengan tubuh berlumur peluh.

“Bekerja sambil olahraga!” celetuk Sutikno dengan tersenyum. Pantas badan mereka kekar. Di perusahaan itu bekerja pula Jupri (46), yang telah 26 tahun bertugas khusus memberi warna kuning tahu dengan bahan kunyit. Setiap hari Jupri mengayuh sepeda dari rumah ke tempat kerjanya sejauh 7 kilometer. “Saya tak punya pekerjaan lain,” kata Jupri.

Bah Kacung disebut-sebut sebagai pembuat tahu tertua di Kediri. Sepeninggal Bah Kacung tahun 1963, usaha itu dilanjutkan anak Bah Kacung, yaitu Lauw Sieng Yan atau Seger Budi Santosa (76). Ia membuka usaha di Jalan Trunojoyo, Kediri. “Tahun 1942, waktu saya masih umur 15 tahun, saya sudah ikut kerja, ikut nggiling tahu,” kata Seger, yang masih tampak segar sentosa.
Begitulah sebuah usaha tahu bertahan turun-temurun hingga 96 tahun. Meski membawa nama Bah Kacung, tidak mudah bagi Seger melanjutkan usaha keluarga. “Bapak saya harus mengumpulkan modal lagi. Dia bersumpah tidak akan makan tahu sebelum berhasil bikin tahu sendiri,” kenang Anastasia, putri Seger, yang menjadi editor sebuah penerbitan di Jakarta.

forum.wgaul.com

Adonan dari kedelai ini menjadi salah satu oleh-oleh khas Kediri. Fenomena tahu takwa dimulai oleh Bah Kacung. Keistimewaan tahu takwa terletak pada warnanya yang kuning, padat, gurih, harum, dan bisa langsung dimakan begitu saja.

takwa (tahu kuning)

takwa (tahu kuning)

Tahu adalah makanan biasa alias tidak istimewa. Tidak percaya? Coba cari di sembarang pasar semua daerah di Indonesia. Anda pasti menemukan pedagang tahu. Maklum, seperti tempe, tahu sudah naik pangkat menjadi makanan rakyat. Bedanya, tempe hanya ada satu macam. Di mana-mana namanya, ya, tempe. Kalau tahu, bisa beragam jenisnya. Ada tahu sumedang, tahu cina, tahu plempung, tahu takwa, tahu pong, dan sederet jenis tahu lain. Jenis tahu tergantung pada campuran, cara pembuatan, dan hasil akhirnya. Paling terkenal tentu saja tahu sumedang dan tahu takwa.

tahu putih

tahu putih

Nah, gudangnya tahu takwa adalah Kediri. Setiap orang yang bertandang ke kota kecil di Jawa Timur ini pasti kurang mantap bila tidak mencicipi atau menenteng oleh-oleh tahu takwa. Tak heran kalau industri tahu bertumbuh bak cendawan musim hujan di Kediri. Sepanjang Jalan Pattimura, dulu bernama Jalan Jagalan Lor yang menjadi pusat pertahuan, tak kurang dari dua puluh kios memajang tahu. Sepotong jalan di tengah kota itu pun selalu ramai dikunjungi orang. Sasarannya, tentu saja, tahu takwa.

Sebenarnya, tahu dan takwa adalah identik. Takwa juga berarti tahu. Tahu makanan berprotein tinggi dari Cina, yang dibuat dari kedelai. Konon, kata tahu berasal dari bahasa Cina: tao-hu, teu-hu, atau tokwa. Tao atau teu berarti kacang (kedelai). Adapun hu atau kwa berarti rusak atau lumat. Di Kediri, takwa adalah tahu yang tidak biasa. Takwa berwarna kuning, tak seperti tahu yang putih.

Pelopor pembuat tahu kediri adalah Lauw Soen Hoek atau lebih dikenal sebagai Bah Kacung. Meski sudah meninggal sejak 1963, toko tahu Bah Kacung masih bisa dijumpai di Jalan Trunojoyo di pecinan kota lama Kediri. Putra Bah Kacung, Josef Seger Budisantoso, yang mengelola toko tahu itu.

Sejak pagi buta, toko Bah Kacung sudah penuh aktivitas. Anda bisa membeli tahu atau takwa sejak jam 6 pagi hingga jam 8 malam. Dalam sehari, menurut Seger, empat kali mereka memasak tahu. Satu kali masak menghabiskan 15 kg kacang kedelai. Artinya, 60 kg kedelai dalam satu hari. Jika hari libur, jumlah itu bisa bertambah. Konon, jika musim liburan, pemilik Bah Kacung harus menyiapkan enam kuintal kedelai mentah untuk diolah menjadi tahu. Maklum, selain pelopor tahu, produk Bah Kacung ini juga berkadar air rendah. Jadi, tidak cepat basi.

Meski zaman sudah berbeda, Seger (71 tahun) masih tetap mempertahankan cara tradisional dalam membuat tahu Bah Kacung. Peralatannya masih dibuat dari kayu dan batu, serta dikerjakan secara manual dengan tenaga manusia. Bahkan, pembakarannya masih menggunakan kayu. Sementara itu, industri tahu Kediri lain sudah lebih maju. Mereka berproduksi dengan peralatan dan kemasan modern berbahan pengawet, sehingga bisa mengirim tahu ke luar Kediri. Tak heran jika kapasitas produksi Bah Kacung pun terbatas. Malah, sampai sekarang mereka tidak membuka cabang atau menitipkan tahunya ke agen mana pun.

Sebelum diolah, kedelai dipisahkan dulu kulit arinya. Tujuannya supaya tahu tidak cepat masam. Agar lebih mudah mengupas, kedelai direndam dulu selama enam jam. Setelah kulit tipis dilepas, barulah digiling supaya menjadi adonan halus. Penggilingnya berupa dua roda batu yang ditumpuk sehingga as rodanya bersatu, dan diberi tangkai kayu untuk memutar. Kedelai yang digiling akan berubah menjadi cairan putih.

Selanjutnya, cairan putih ini dimasak dalam bak dan tungku semen dengan bahan bakar kayu. Mereka tidak menggunakan gas atau minyak tanah. Konon, memasak dengan kayu membuat tahu menjadi matang merata atau lebih tanak. Apinya juga tak boleh terlalu besar dan tidak boleh mati pula. Jadi, seluruh bagian cairan kedelai bisa matang dengan sempurna.

Cairan ini harus diaduk perlahan sampai mendidih, lalu dicampuri cuka. Setelah menggumpal, barulah adonan lumat ini dituang dalam cetakan. Usai diratakan dan dipukul supaya padat, gumpalan tadi dipres dengan alat dari kayu. Supaya tahunya sama sekali tidak berair, alat pres tadi diberi empat gandulan besi. Masing-masing beratnya 20 kg. Setelah dipres dengan besi selama seperempat jam, tahu dipotong dan siap dijual.

Sebagian tahu dibikin takwa. Tahu putih itu harus dimasak dalam campuran air dan tumbukan kunyit, serta sedikit garam. Itu sebabnya, rasa takwa gurih dan sedikit asin. Warnanya juga kuning dan baunya lebih harum ketimbang tahu biasa. Takwa juga enak dimakan begitu saja, tanpa dimasak terlebih dulu.

Tahu Bah Kacung tahan selama 24 jam dari waktu diproduksi. Sepanjang 24 jam tersebut, tahu Bah Kacung bisa langsung dimakan, tanpa direbus atau digoreng. Lewat waktu itu, tahu harus dicuci dulu karena permukaannya akan berlendir. Usai dicuci, bisa langsung dimasak seperti biasa.

Epochtimes.co.id
Sabtu, 07 Febuari 2009

Meski tahu bukan merupakan panganan asli Indonesia tapi, siapa yang tidak mengenal tahu. Tahu identik dengan tempe, jika menyebut tempe pasti tak lengkap jika tidak menyebut tahu. Tempe dan tahu, dikenal dan populer dikalangan rakyat. Dari kalangan bawah hingga tinggi, apalagi jika mengetahui bagaimana tingginya kandungan protein pada keduanya.
Baik tahu ataupun tempe, dapat dijadikan lauk juga hanya sekedar makanan ringan. Dibuat kripik, dipadu dengan bakso, digoreng dikudap dengan cabe dan sebagainya.

Tempe memiliki beberapa jenis, tempe oncom, tempe dari bungkil kacang tanah, tempe menjes yang berasal dari ampas tahu, tempe mendoan. Namun yang paling dikenal tentunya tempe dari kedelai.
Begitupun dengan tahu juga memiliki banyak jenis, seperti tahu sumedang, tahu cina, tahu plempung, tahu takwa, tahu pong, dan sederet jenis tahu lain. Jenis tahu tergantung pada campuran, cara pembuatan, dan hasil akhirnya. Paling terkenal tentu saja tahu sumedang dan tahu takwa.

Takwa juga berarti tahu. Tahu makanan berprotein tinggi dari Cina, yang dibuat dari kedelai. Konon, kata tahu berasal dari bahasa Cina: tao-hu, teu-hu, atau tokwa. Tao atau teu berarti kacang (kedelai). Hu dan kwa berarti lumat.

Pelopor dan Legenda di Kediri

Bah Kacung (Lauw Soen Hok)

Bah Kacung (Lauw Soen Hok)

Pelopor industri tahu Kediri adalah Lauw Soen Hoek atau hingga kini lebih dikenal sebagai Bah Kacung. Ia mulai merintis usaha tahu sejak 1912. Saat ini usahanya telah diteruskan oleh cucunya Herman Budiono setelah putranya Yosef Seger Budisantoso (Lauw Sing Hian) meninggal bulan Mei 2008 lalu.

J. Seger Budi Santoso (Lauw Sing Hian)

J. Seger Budi Santoso (Lauw Sing Hian)

Sejak dahulu sejak pagi buta toko Bah Kacung telah melakukan aktivitasnya. Toko ini telah buka untuk melayani pembelinya sejak jam 6 pagi hingga jam 8 malam. Sebagai penerus generasi ke-3 Herman tetap berusaha menjaga tradisi yang telah ditetapkan oleh kakeknya itu.

A. Herman Budiono

A. Herman Budiono

Menjaga kualitas dan rasa dari tahu dan takwa Bah Kacung. “Tahu kami memang sedikit mahal dari tahu Kediri yang lain di jalan Patimura (dulu: Pejagalan Lor) karena kami memang menjaga mutu dan rasa, tahu Bah Kacung sama seperti dulu.” Kata Herman.

Salah satu cara untuk menjaga “citra” tahu Bah Kacung adalah masih tetap mempertahankan cara tradisional dalam membuat tahu Bah Kacung. Peralatannya masih dibuat dari kayu dan batu, serta dikerjakan secara manual dengan tenaga manusia. Bahkan, pembakarannya masih menggunakan kayu. “Dengan menggunakan gilingan ini rasa tahu lebih gurih karena bubur kedelai tidak lumat terlalu halus seperti hasil jika digiling dengan mesin. Bahkan ampas tahunya masih terasa gurih.” Jelas Herman.

Sementara itu, industri tahu Kediri lain sudah lebih maju. Mereka berproduksi dengan peralatan dan kemasan moderen berbahan pengawet, sehingga bisa mengirim tahu ke luar Kediri. Tak heran jika kapasitas produksi Bah Kacung pun terbatas. Malah, sampai sekarang mereka tidak membuka cabang atau menitipkan tahunya ke agen manapun.
Hingga saat ini meski Bah Kacung telah meninggal tahun 1963, namun tahu Bah Kacung masih bisa kita nikmati dan membeli di tokonya yang terletak di Jalan Trunojoyo pecinan kota lama Kediri. Tahu produksi Bah Kacung memang telah menjadi legenda Kediri.

Proses Pembuatan
Saat ini tahu olahan Bah Kacung menggunakan kedelai lokal karena lebih baru dan gurih kata Herman. Kedelai itu dipisahkan dulu kulit arinya. Tujuannya supaya tahu tidak cepat masam. Agar lebih mudah mengupas, kedelai direndam dulu selama enam jam. Setelah kulit arinya dapat terlepas, kemudian digiling menjadi adonan bubur halus. Penggilingnya berupa dua roda batu yang ditumpuk sehingga as rodanya bersatu, dan diberi tangkai kayu untuk memutar. Kedelai yang digiling akan berubah menjadi bubur encer kedelai putih.

Selanjutnya, bubur encer putih ini dimasak dalam bak dan tungku semen dengan bahan bakar kayu. Mereka tidak menggunakan gas atau minyak tanah. Konon, memasak dengan kayu membuat tahu menjadi matang merata atau lebih tanak. Apinya juga tak boleh terlalu besar dan juga tidak boleh mati. Jadi, seluruh bagian cairan kedelai bisa matang dengan sempurna.

Lalu setelah matang disaring dengan kain hingga terpisah dengan ampasnya (ampas ini biasanya ada yang membeli untuk diolah menjadi tempe menjes).

Cairan ini harus diaduk perlahan dengan takaran tertentu dicampuri cuka. Setelah menggumpal, barulah adonan lumat ini dituang dalam cetakan. Usai diratakan dan ditekan supaya padat, gumpalan tadi dipres dengan alat dari kayu. Supaya tahunya sama sekali tidak berair, alat pres tadi diberi empat gandulan besi. Masing-masing beratnya 20 kg. Setelah dipres dengan besi selama seperempat jam, tahu dipotong dan siap dijual.

Sebagian tahu dibikin takwa. Tahu putih itu harus dimasak dalam campuran air dan tumbukan kunyit, serta sedikit garam. Itu sebabnya, rasa takwa gurih dan sedikit asin. Warnanya juga kuning dan baunya lebih harum ketimbang tahu biasa. Takwa juga enak dimakan begitu saja, tanpa dimasak terlebih dulu.

Dalam satu hari Herman dapat menghasilkan 200 potong tahu dari 20 kilogram biji kedelai. Memang sangat sedikit karena tidak menjual melalui agen hanya cukup di tokonya saja. Selain itu cara pengolahan juga mempengaruhi dari kuantitas tahu.

“Jika menggunakan gilingan mesin dapat dihasilkan lebih 200 potong tahu dari 20 kilogram kedelai. Tapi menurut ayah saya rasa tahu akan berbeda dari yang biasa kami buat. Karena menggunakan gilingan bubur kedelai akan sangat halus. Bahkan ampasnya sangat sedikit,” menurut Herman.

Tapi jika pada waktu-waktu tertentu kami akan menambah produksi. Seperti waktu liburan atau hari perayaan. Pembelinya tentu saja tidak hanya dari kota Kediri saja tapi juga luar kota, pelanggan dari zaman Bah Kacung. Tahu dan takwa hasil produksinya memang terkenal berkadar air rendah dan tidak cepat basi.

Saat pembeli memesan tahu tersebut akan dikemas dan diberi label. Bertuliskan, “Perusahaan Tahu dan Takwa Bah Kacung (Cakrawijaya). Terkenal Sejak 1912. Kami tidak membuka cabang/agen di mana pun. Hanya di jalan Trunojoyo 59 – Kediri.”

Tetap Menjaga Mutu
Herman Budiono sebagai penerus atau generasi ke-3 dari tahu Bah Kacung ternyata baru saja menerima alih generasi. Karena meninggalnya Yosef Seger Budisantoso (Lauw Sing Hian) beberapa bulan yang lalu.

Saat ditanya bagaimana rencana selanjutnya untuk mengembangkan usaha dari leluhurnya, dia belum dapat memastikan. “Yang terpenting saya harus dapat tetap mempertahankan citra tahu Bah Kacung. Tahu sebagai makanan yang sehat dan bergizi. Tetap melakukannya dengan jujur dan benar. Misalnya tidak menambahkan bahan-bahan yang dapat berbahaya bagi kesehatan. Ini pesan dari turun temurun,” ungkap Herman.
Namun tidak menutup kemungkinan baginya jika dapat memperbesar usahanya dengan tetap pada prinsip. Karena tahu Bah kacung tidak mengandung bahan pengawet maka dikhawatirkan akan tidak dapat bertahan lama jika dititipkan pada toko-toko lain apalagi di luar kota.
(Oscar/Amel_ NTD Surabaya)

http://www.antarajatim.com, Senin, 21 Jan 2008 11:30:08

oleh M. Irfan Ilmie

Kediri, 21/1 (ANTARA)

besek

Setiap berkunjung atau sekadar mampir ke Kediri, orang tidak akan pernah lupa untuk membawa tahu sebagai buah tangan untuk sanak keluarga yang ditinggalkan di rumah. Di kota yang berjarak 123 kilometer arah barat daya ibukota Provinsi Jawa Timur, Surabaya itulah, penganan berbentuk persegi empat yang terbuat dari kedelai tersebut menjadi salah satu ikonnya. Tak heran jika selama ini banyak orang lebih mengenal Kediri sebagai “Kota Tahu” ketimbang sosok Raja Jayabaya yang berkuasa di Kediri jauh sebelum Kerajaan Majapahit muncul di permukaan bumi nusantara ini.

Adalah seorang Tionghoa bernama Lauw Soen Hok yang mulai memperkenalkan “tahuwa” kepada warga Kediri pada tahun 1912. Tahuwa kreasi Lauw Soen Hok itu berbeda dengan tahu yang sebelumnya sudah ada di beberapa daerah lain di Indonesia. Selain lebih kenyal, warna tahuwa kuning setelah direbus bersama ekstrak kunyit. Karena kesulitan mengucapkan kata “tahuwa”, masyarakat Kediri akhirnya menyebut makanan itu menjadi “Tahu Takwa”, tahu khas Kediri yang jarang ditemukan di daerah lain. Beberapa tahun setelah 1912, banyak perusahaan rumahan yang kemudian membuat Tahu Takwa. Bahkan rumah-rumah warga keturunan Tionghoa yang berada di sekitar kawasan Pasar Setono Betek disulap menjadi toko yang memperdagangkan makanan khas Kediri dengan bahan baku utama kedelai itu.

Gulung Tikar Itulah sekadar catatan kilas balik. Perlahan tapi pasti, kelangsungan usaha pembuatan Tahu Takwa itu kini terancam, menyusul semakin melonjaknya harga kedelai. Etalase di beberapa sentra penjualan Tahu Takwa, seperti di Jalan Yos Sudarso, Jalan Trunojoyo, dan Jalan Pattimura sudah tidak lagi dipenuhi oleh makanan rakyat itu. Herman Budiono (40), pengelola perusahaan Tahu Takwa “Bah Kacung” menuturkan produksinya turun sampai 50 persen.

“Kami sudah tidak bisa memproduksi tahu setiap hari,” kata perajin tahu yang mewarisi keahlian nenek moyangnya itu. Ia menyebutkan, biasanya setiap hari bisa menghabiskan satu kuintal kedelai. Sekarang dia hanya bisa memproduksi tahu dari kedelai sebanyak itu setiap dua hari sekali. “Makanya sekarang sudah tidak seperti dulu lagi,” katanya sambil menunjukkan etalasenya yang kosong dan beberapa peralatan produksinya yang menganggur. Ketika harga kedelai masih berada di kisaran angka Rp4.000 hingga 4.500 per kilogram, dia menjual Tahu Takwa seharga Rp1.500 per biji. Sekarang ketika harga kedelai menembus Rp8.500 per kilogram, Tahu Takwa itu dijualnya menjadi Rp1.700 per biji. “Kami tidak berani menaikkan harga sampai Rp2.000 per biji karena takut pembeli akan lari,” kata Herman saat ditemui di rumah sekaligus tempat usaha dan penjualan Tahu Takwa di Jalan Trunojoyo 166 Kediri itu. Ia merasa beruntung karena masih bisa tetap berproduksi kendati tidak bisa “ajeg” seperti hari-hari sebelumnya karena di beberapa tempat lain aktivitas pembuatan tahu sudah berhenti total.

Tahu Bah Kacung, Jl. Trunojoyo 59, Kediri

Tahu Bah Kacung, Jl. Trunojoyo 59, Kediri

Banyak pengunjung kota Kediri, Jawa Timur, yang sering bingung (dan sering “terkecoh”) ketika mencari tahu dan takwa (tahu kuning) yang tertua/terkenal di Kediri buatan Bah Kacung. Di kota ini bertebaran produsen tahu, dan beberapa “mencatut” nama Bah Kacung, akibatnya banyak pembeli yang kecewa. Mereka berlokasi di tempat-tempat yang lebih strategis daripada Bah Kacung yang asli, yaitu di Jalan Trunojoyo No. 59 Kediri.
Harga tahu di sini memang di atas rata-rata, namun rasanya dan kualitasnya tak tertandingi. Dibuat dari kedelai pilihan, dengan cara tradisional, tanpa pengawet (akibatnya hanya bisa bertahan selama 24 jam apabila tidak dipanasi lagi).

papan nama a

Tahu Bah Kacung mulai diproduksi pada tahun 1912 oleh Lauw Soen Hok, alias Bah Kacung, julukan yang diperolehnya sejak masih kanak-kanak (Kacung). Semula berlokasi di Jalan Jagalan (kini Jalan Pattimura). Tahun 1964 Bah Kacung meninggal dunia, dan pada tahun 1965 usaha ini dilanjutkan oleh salah satu putranya, Josef Seger Budi Santoso (Lauw Sing Hian), dengan lokasi berpindah ke Jalan Trunojoyo No. 59. Pada tanggal 31 Mei 2008 Pak Seger wafat, dan putranya, Alexander Herman Budiono, meneruskan usaha turun-temurun ini dengan tetap menjaga kualitasnya.

map_a

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!