Kompas, Minggu, 12 Agustus 2007

Frans Sartono & Susi Ivvaty

Di balik tahu Kediri yang lembut dan gurih itu, tercatat sejarah kerja keras para juragan dan pekerja tahu. Di masa susah, ada yang sampai memberi makan keluarganya dengan ampas tahu.
Sudah 40 tahun Suwaji (71) menjadi penggiling kedelai untuk dibuat tahu. Bersama anaknya, Sutikno (31), ia berpasangan menggiling di pabrik perusahaan tahu Bah Kacung, Kediri, Jawa Timur. Ayah Suwaji bernama Waras, dulu juga buruh penggiling tahu. Jadilah tiga generasi penggiling tahu Bah Kacung yang berdiri sejak tahun 1912.

batu penggiling kedelai

batu penggiling kedelai

Suwaji menggiling menggunakan gilingan tradisional yang terbuat dari tumpukan lempeng batu berdiameter sekitar 50 sentimeter. Suwaji dan Sutikno memutar gilingan yang dihubungkan dengan tuas dan tali sebagai penggerak. Lumayan berat bagi yang tak biasa. Cobalah sekali saja menggiling satu putaran, niscaya terasa berat sekali. Namun, Suwaji dan Sutikno tampak menikmati pekerjaan itu dengan tubuh berlumur peluh.

“Bekerja sambil olahraga!” celetuk Sutikno dengan tersenyum. Pantas badan mereka kekar. Di perusahaan itu bekerja pula Jupri (46), yang telah 26 tahun bertugas khusus memberi warna kuning tahu dengan bahan kunyit. Setiap hari Jupri mengayuh sepeda dari rumah ke tempat kerjanya sejauh 7 kilometer. “Saya tak punya pekerjaan lain,” kata Jupri.

Bah Kacung disebut-sebut sebagai pembuat tahu tertua di Kediri. Sepeninggal Bah Kacung tahun 1963, usaha itu dilanjutkan anak Bah Kacung, yaitu Lauw Sieng Yan atau Seger Budi Santosa (76). Ia membuka usaha di Jalan Trunojoyo, Kediri. “Tahun 1942, waktu saya masih umur 15 tahun, saya sudah ikut kerja, ikut nggiling tahu,” kata Seger, yang masih tampak segar sentosa.
Begitulah sebuah usaha tahu bertahan turun-temurun hingga 96 tahun. Meski membawa nama Bah Kacung, tidak mudah bagi Seger melanjutkan usaha keluarga. “Bapak saya harus mengumpulkan modal lagi. Dia bersumpah tidak akan makan tahu sebelum berhasil bikin tahu sendiri,” kenang Anastasia, putri Seger, yang menjadi editor sebuah penerbitan di Jakarta.